A. Hakekat Kemandirian
1. Pengertian Mandiri
Pada dasarnya pengertian ‘mandiri’ dapat ditinjau dari dua segi, yaitu pengertian secara etimologi dan pengertian secara terminologi. Secara etimologi kata ‘mandiri’ mempunyai arti keadaan dapat berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain (KBBI, 2005:710).
Secara terminologi pengertian ‘mandiri’ diartikan oleh beberapa ahli. Menurut Daradjat, mandiri adalah kecenderungan anak untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya tanpa minta tolong kepada orang lain. Biasanya anak yang berdiri sendiri lebih mampu memikul tanggung jawab, dan pada umumnya mempunyai emosi yang stabil.
Sehubungan dengan penjelasan di atas, Barnadib (1987:72) mendefinisikan kemandirian sebagai berikut ini.
a. Mereka yang memiliki perilaku yang mampu berinisiatif b. Mampu mengatasi masalah, hambatan dan tantangan.
c. Mempunyai rasa percaya diri
d. Dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.
e. Kemandirian suatu keadaan sehingga seorang memiliki hasrat bersaing
(berkompetisi) untuk maju demi kebaikan dirinya.
Lebih lanjut, Havighurst (1972) mengemukakan bahwa kemandirian terdiri atas beberapa aspek yaitu sebagai berikut ini.
a. Emosi ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua.
b. Ekonomi ditunjukkan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua
c. Sosial ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dengan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.
d. Intelektual ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
Dalam psikologi perkembangan, istilah mandiri disamakan dengan independence. Namun ada istilah lain yang maknanya hampir sama yaitu autonomi. Steinberg dalam Sutanto (2006) menjelaskan, independence (mandiri) secara umum menunjuk pada kemampuan individu untuk menjalankan atau melakukan sendiri aktivitas hidup terlepas dari pengaruh kontrol orang lain.
Dalam pandangan Steinberg, kemandirian merupakan salah satu tugas perkembangan dan mencakup kemandirian emosional, kemandirian tingkah laku, dan kemandirian nilai. Kemandirian emosional merupakan aspek kemandirian yang berhubungan dengan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu seperti hubungan emosional dengan orangtua.
Kemandirian tingkah laku adalah suatu kemampuan untuk membuat keputusan tanpa bergantung pada orang lain dan melakukannya secara bertanggung jawab. Sedangkan kemandirian nilai adalah kemampuan memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah, tentang apa yang penting dan apa yang tidak penting. Kemandirian juga dapat dibedakan menjadi kemandirian ekonomi, kemandirian belajar, dan kemandirian sosial dan lain-lain. Seseorang yang mandiri secara ekonomi artinya dia memiliki pendapatan yang cukup untuk membiayai kebutuhannya. Kemandirian ekonomi ini dapat juga dipandang sebagai kemandirian pekerjaan karena dengan mandiri pekerjaan berarti memiliki
pendapatan. Kemandirian belajar menunjukkan seseorang yang mampu melakukan tugas-tugas belajarnya tanpa tergantung orang lain dan dilakukan secara mandiri. Sedangkan kemandirian sosial adalah kemampuan seseorang untuk melakukan fungsi sosialnya, artinya dia dapat memiliki kemampuan untuk berinteraksi atau bersosialisasi dengan lingkungan tanpa hambatan yang berarti (Sunanto, 2006)
Berdasarkan pengertian para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kemandirian adalah pendidikan yang membentuk akhlak, watak, budi pekerti, dan mental manusia agar hidupnya tidak tergantung atau bersandar kepada pihak-pihak lain atau orang lain dan memiliki kekmampuan dalam menghadapi berbagai situasi.
Pendidikan kemandirian bertujuan membentuk insan-insan yang percaya kepada diri sendiri dalam mengerjakan suatu urusan. Karakter mandiri ini mengacu dan mendorong seseorang untuk memecahkan sendiri persoalan hidup dan kehidupannya, sehingga dia termotivasi untuk berinisiatif, berkreasi, berinovasi, proaktif, dan bekerja keras. Pendidikan budi pekerti mandiri memacu keberanian seseorang untuk berbuat atau beraksi, tidak pasrah dan beku, tetap dinamis, enerjik, dan selalu optimis menuju ke masa depan yang cerah (Sumahamijaya, 2003:31).
Widjaja (1986), menemukan tiga istilah yang sepadan untuk menunjukan kemampuan berdikari seseorang, yaitu “autonomy, kompetensi, dan kemandirian”. Menurutnya, kompetensi berarti kemampuan untuk bersaing dengan individu- individu lain yang normal. Kompetensi juga menunjukan pada suatu taraf mental
yang cukup pada individu untuk memikul tanggung jawab atas tindakan- tindakannya. Istilah autonomy seringkali disamaartikan dengan kemandirian, sehingga didefinisikan bahwa individu yang otonom ialah individu yang mandiri, tidak mengandalkan bantuan atau dukungan orang lain yang kompeten, dan bebas bertindak.
Namun demikian, Steinberg dalam Sutanto (2006) berpendapat bahwa Sedangkan istilah autonomi (otonomi) berarti kemampuan mengurus sendiri atau mengatur kepentingan sendiri. Dari sini dapat dipahami bahwa kemandirian tidak identik dengan otonomi melainkan lebih luas cakupannya. Menurut beberapa ahli, kemandirian menunjuk pada kemampuan psikososial yang mencakup kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung orang lain, tidak terpengaruh lingkungan, dan bebas mengatur kebutuhan sendiri.
2. Ciri-ciri Kemandirian
Kemandirian merupakan salah satu ciri kedewasaan individu yang ditandai oleh adanya kemauan dan kemampuan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup minimalnya secara sah, wajar, dan bertanggung jawab. Kemandirian tidak identik dengan kehidupan individualistik yang mengisolasi diri dari orang lain dan lingkungan sekitar. Akan tetapi individu yang mandiri adalah individu yang hidup dan berada di tengah masyarakat yang bekerja sama dengan masyarakat di sekitarnya. Selain itu, individu mandiri memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri secara wajar walaupun dalam batas yang sangat minimal sekalipun.
Kemandirian seseorang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman, kondisi ekonomi, dan status sosial. Kemandirian adalah perilaku yang selalu aktif untuk berusaha meningkatkan penghasilan tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.
Ciri-ciri orang yang memiliki kemandirian adalah sebagai berikut ini. a. Tanggung jawab
Maksud tanggung jawab dalam hal ini berkaitan erat dengan kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan kewajiban serta memanfaatkan hak hidupnya secara sah dan wajar sesuai dengan norma hidup yang berlaku di masyarakat.
b. Tidak bergantung pada orang lain
Seorang individu haruslah sanggup hidup secara mandiri di lingkungan masyarakat sekitarnya, dengan kemandiriannya mereka sanggup mendapatkan kebutuhan hidupnya tanpa menggantungkan diri terhadap orang lain.
c. Mampu memenuhi kebutuhan pokok minimal
Individu mandiri mampu memenuhi kebutuhan pokok minimal, bukan hanya kebutuhan ekonomi saja, tetapi mencakup kebutuhan jasmani dan rohani, seperti kebutuhan belajar, hidup bermasyarakat, dan sebagainya.
d. Memiliki etos kerja yang tinggi
Individu mandiri memiliki kemauan kerja yang baik dan tinggi, ulet, bersemangat, dan memiliki prinsip keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.
e. Disiplin dan berani mengambil resiko
Orang yang berjiwa mandiri memiliki disiplin dan berani mengambil resiko, konsisten melakukan pekerjaan walaupun mengandung resiko. Bekerja dengan penuh perhitungan serta siap mempertanggungjawabkan segala keputusan yang dibuatnya (Rifaid, 2000:37).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah suatu sikap individu yang merupakan akumulasi dari kemampuan-kemampuan yang dimiliki individu, baik dalam berpikir maupun dalam bertindak yang diperoleh melalui proses belajar, bimbingan, atau latihan. Hasil dari kegiatan ini menjadikan individu tersebut mampu menghadapi berbagai situasi yang dihadapi di lingkungan sosialnya, baik hambatan maupun tantangan yang ada dengan penuh kepercayaan diri. Selain itu, individu akan mampu berpartisipasi secara aktif sehingga mampu melakukan tugas-tugas kehidupannya sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.
Berkenaan dengan kemandirian anak, khususnya anak-anak pada umumnya yang memasuki periode akhir masa kanak-kanak, kemandirian merupakan bagian dari pencarian identitas (Hurlock, 1980:173). Erickson dalam Hurlock (1980:1973) berpendapat bahwa:
Identitas diri berarti perasaan dapat berfungsi sebagai seorang yang tersendiri, tetapi yang berhubungan erat dengan orang lain. Ini berarti menjadi seorang dari kelompok tetapi sekaligus memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan kelompok yang merupakan kekhususan dari individu itu. Untuk memperoleh identitas diri, anak harus mempunyai keyakinan bahwa ia harus dapat bertindak mandiri.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian
Masrun dalam Sunanto (1986:4) berpendapat, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian, yaitu:
a. Usia
Pengaruh dari orang lain akan berkurang secara perlahan pada saat anak menginjak usia lebih tinggi.
b. Konsep Diri
Konsep diri yang positif mendukung adanya perasaan yang kompeten pada individu untuk menentukan langkah yang diambil. Mereka yang memandang dirinya mampu, cenderung memiliki kemandirian, dan sebaliknya mereka yang memandang dan menilai dirinya sendiri kurang mampu, cenderung menggantungkan dirinya kepada orang lain.
c. Keluarga
Orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam melatarkan dasar- dasar kepribadian seorang anak. Demikian pula dalam pembentukan kemandirian pada diri seseorang.
d. Interaksi Sosial
Kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya sangat mempengaruhi tingkat kemandiriannya.
4. Proses terbentuknya kemandirian
Lingkungan kehidupan yang dihadapi individu sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, baik segi-segi positif maupun negatif. Lingkungan keluarga dan masyarakat yang baik terutama dalam bidang nilai dan kebiasaan-kebiasaan hidup akan membentuk kepribadiannya, dalam hal ini adalah kemandiriannya. Lingkungan sosial yang mempunyai kebiasaan yang baik dalam melaksanakan tugas-tugas dalam kehidupan mereka, demikian pula keadaan dalam kehidupan keluarga akan mempengaruhi perkembangan keadaan kemandirian anak. Sikap orang tua yang tidak memanjakan anak akan menyebabkan anak berkembang secara wajar dan menggembirakan. Sebaliknya anak yang dimanjakan akan mengalami kesukaran dalan hal kemandiriannya.
Pola pendidikan yang baik selalu ditegakkan dengan prinsip-prinsip memberi hadiah dan memberi hukuman yang akan menyebabkan anak-anak dalam keluarga memiliki taraf kesadaran dan pengalaman nilai-nilai kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang terkesan amburadul, anormatif dan gersang dari keteladanan yang terpuji menyebabkan anak-anak didik yang tumbuh dalam tersebut akan menunjukkan keadaan kepribadian yang kurang bahkan tidak menggembirakan.
Mappadjantji (2005 : 319) mengatakan,
Dimensi pendidikan memiliki 3 (tiga) tataran. Pertama tataran filosofis yang berkaitan dengan pembentukan dan pengayaan identitas diri berupa pengembangan keunggulan manusia. Kedua, tataran konseptual berkaitan dengan tujuan pendidikan, berupa kesadaran dan kompetensi berevolusi. Ketiga, tataran operasional berkaitan dengan penggalian dan pengembangan potensi dasar manusia berupa peningkatan kecerdasan dalam arti luas, agar mampu melakonkan pesan dari tataran sebelumnya.
Menurut Antonius (2002:146) lingkungan sosial ekonomi yang memadai dengan pola pendidikan dan pembiasaan yang baik akan mendukung perkembangan anak-anak menjadi mandiri, demikian pula sebaliknya. Keadaan sosial ekonomi yang belum menguntungkan bahkan paspasan jika ditunjang dengan penanaman taraf kesadaran yang baik terutama dalam hal upaya mencari nafkah dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan, akan menyebabkan anak-anak mempunyai nilai kemandirian yang baik. Sebaliknya jika keadaan sosial ekonomi masih kurang menggembirakan, sedang kedua orang tua tidak menghiraukan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya, dan taraf keteladanan pun jauh dari taraf keluhuran, maka bukan tidak mungkin anak-anak berkembang salah dan sangat merugikan masa depannya jika tidak tertolong dengan pendidikan selanjutnya.
Lingkungan keluarga yang mempunyai nilai-nilai yang baik akan memungkinkan anak berkemampuan untuk melakukan pilihan terhadap sesuatu secara baik. Sebaliknya keluarga yang tidak mempunyai nilai-nilai baik akan membiarkan anaknya. Orang tua yang baik tentu akan menuntun anak-anaknya agar selalu memperhatikan teman sepergaulannya. Dianjurkan untuk selalu mencari teman yang baik akhlaknya, bukan sekedar mempunyai teman dalam kehidupan tanpa memperhatikan taraf kebaikan sikap dan tingkah lakunya (Hasan Basri,2000:55). Individu yang memiliki konsep diri positif akan menilai dirinya mampu, cenderung memiliki kemandirian dan sebaliknya individu yang memiliki konsep diri negatif akan menilai dirinya sendiri kurang atau cenderung menggantungkan dirinya pada orang lain.
4. Islam Itu Ajarkan Kemandirian
Sebuah upaya menjadi muslim mandiri memerlukan adanya berbagai bekal yang harus ada, ketika berada di tengah perjalananpun tentu ada halangan yang menghadang. Karena itu muslim mandiri adalah sebuah cita-cita bagi setiap muslim, bagaimana ia dapat berislam sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Salam dan orang-orang yang mengikutinya.
Dia juga dapat beribadah sesuai dengan contoh Nabi yang muncul dari kesadaran diri, serta ia dapat berfikir dengan landasan yang kuat sebagai hasil dari keilmuan yang dimiliknya.
Di antara bekal yang harus dimiliki tersebut adalah ilmu. Ilmu yang berkaitan dengan keyakinan aqidah Islam. Ia merupakan pondasi dalam membina bangunan Islam yang kokoh. Dengannya Islam berdiri tegak, dan dengannya pula ibadah dapat terlaksana dengan bimbinganNya.
Selanjutnya berlepas dirinya kita dari berbagai pemikiran yang tidak selaras dengan nilai-nilai yang dianut Islam. Pelepasan diri ini meliputi tindakan tidak menyetujui dan melakukan bantahan-bantahan yang sesuai dengan kemampuan kita. Hal ini kita lakukan karena apa yang mereka gembar-gemborkan dengan kebebasan berfikir pada dasarnya adalah pembebekan terhadap pola pikir kaum orientalis yang ingin menghancurkan Islam.
Jika mereka berslogan "Kamilah muslim mandiri dan moderat yang membebaskan seluruh akal pikiran sesuai dengan fitrahnya". Maka hal ini dapat kita jawab, "Dari mana anda mendapatkan pemikiran-pemikiran tersebut? bukankah itu adalah pemikiran usang yang kalian ambil dari para pendahulu kalian dari kalangan orang-orang yang ingkar dengan Islam, walaupun mereka mengaku muslim?
Demikianlah bantahan terhadap mereka. Satu nama tapi beda makna, jika muslim mandiri yang kita maksudkan adalah bebasnya pikiran kita dari kelompok-kelompok yang menyimpang, sedangkan muslim mandiri menurut mereka adalah muslim yang berfikir bebas tanpa terikat oleh teks-teks suci dan bimbingan Nabi.
Jadi cukup jelas bahwa muslim mandiri yang dimaksud dalam buku ini adalah seorang muslim yang tidak mengikatkan diri kepada kelompok-kelompok yang tidak selaras dengan Islam, ia berlepas diri dengannya baik dari segi cara beragama, beribadah dan berfikir.
Seorang muslim mandiri akan membekali dirinya dengan bekal ilmu yang shahih dan dengannya ia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Selain itu dalam beribadah juga ia tidak terikat dengan aturan-aturan yang dibuat oleh manusia, apalagi tanpa adanya dalil yang dijadikan sandaran.
Kemudian akan timbul permasalahan, bagaimana dengan kelompok-kelompok da'wah yang ada saat ini? apakah kita tidak boleh masuk ke dalamnya atau boleh-boleh saja? dan bagaimana sikap kita terhadap mereka?
Pemahaman terhadap kemandirian dalam beragama haruslah selalu kita tingkatkan. Menanggapi pertanyaan-pertanyaan sebelumnya maka bisa kita jawab bahwa, jika kelompok-kelompok da'wah tersebut tidak mengekang kita dan mengikat kita dengan aturan-aturan yang membuat kita terjerat di dalamnya maka kita tidak boleh masuk ke dalamnya.
Sebenarnya setiap perkumpulan apa saja yang membuat pemikiran kita terpasung padanya maka ia adalah musuh besar muslim mandiri, jadi tidak hanya kelompok-kelompok dakwah saja. Sebuah jama'ah pengajian yang hanya memberikan "doktrin-doktrin" kelompoknya saja juga merupakan pemandulan terhadap kemandirian beragama. Sehingga masuk ke dalamnya merupakan bentuk pengkerdilan kepada Islam sendiri.
Jadi bagaimana cara kita mengetahui sebuah kelompok itu selaras dengan kemandirian beragama? secara umum adalah setiap kelompok yang selalu berpegang teguh kepada Al-Islam, tidak mendeskriditkan kelompok lain secara serampangan apalagi tanpa bukti konkrit, serta kelompok tersebut tidak menyelisihi cara beragama Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Salam dan para shahabatNya.
Inilah muslim mandiri, walaupun ia terbebas dari kelompok-kelompok yang menyimpang namun ia juga bijak dalam membantah setiap subhat yang muncul, tentunya dengan ilmu seseorang itu dapat tegak berdiri di atas pemahaman yang benar.
Dan kabar gembira bagi orang-orang yang dapat berpijak di atas kedua kakinya di dalam beragama :
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. QS Ali Imran ayat 139.
Beriman yang dimaksud adalah beriman yang muncul dan timbul dari dalam hati sanubari seseorang, bukan karena makhluk lainnya.
Iman seperti inilah yang memberikan buahnya setiap waktu dan setiap saat kepada pemilik dan orang-orang di sekitarnya, sementara akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke angkasa :
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. QS Ibrahim ayat 24-25.
Adapun halangan-halangan yang terjadi di tengah perjalanan menuju muslim mandiri adalah adanya kerancuan mengenai apa sebenarnya yang diinginkan dari kemandirian dalam beragama ini? apakah ia sekadar trend, atau hanya mencari perhatian seseorang?
Muslim mandiri adalah cita-cita luhur yang ingin mengantarkan setiap muslim untuk dapat menghujamkan seluruh keyakinannya ke dalam hati pemiliknya, ia membebaskan dan melepaskan diri dari berbagai pemikiran manusia yang membawa kepada pendapat pribadi atau golongan. Ia mengembalikan setiap pendapat yang shahih kepada para ahlinya. Demikian pula ia berusaha untuk dapat menumbuhkan kesadaran diri bahwa manusia adalah lemah di hadapanNya.
Muslim mandiri menginginkan adanya sebuah sikap keagamaan di atas pemahaman yang tumbuh dari perjuangan dengan bekal ilmu yang telah ditetapkan oleh Islam, ia tidak mungkin ada tanpa adanya kebebasan untuk memilih sesuai dengan pemahamannya, bukan berdasarkan kepada doktrin-doktrin yang mengikat dan menjerat nalar dan akal pikiran.
Muslim mandiri berlepas diri dari berbagai kelompok-kelompok yang mengatas namakan agama namun tidak ada dasarnya, apa lagi jika kelompok tersebut mengajarkan sikap fanatik terhadap kelompoknya. Namun jika sekadar organisasi kemasyarakatan maka itu bukan termasuk padanya.
Selanjutnya muslim mandiri mendambakan persatuan di atas pemahaman Islam, bukan di atas pemahaman golongan.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…. QS Ali Imran ayat 103.
Tali Allah yang kokoh adalah Al-Islam dengan segala syariatNya, maka kewajiban kita untuk berpegang teguh padanya.
Seorang muslim mandiri berusaha untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat mencerai-beraikan barisan kaum muslimin. Bahkan ia seharusnya menjadi orang-orang yang terdepan di dalam memperjuangkan persatuan kaum muslimin.
Di dalam beribadah seorang muslim tidaklah beribadah kecuali ada dalil yang dapat dijadikan dasar. Dasar ini diperoleh dari kesungguhannya dalam mencari kebenaran, baik secara langsung dari teks-teks wahyu atau dari para ahli yang kompeten di bidangnya. Ia sangat menentang setiap ibadah yang tidak memiliki dasar, walaupun hal tersebut banyak dilaksanakan oleh manusia. Karena banyaknya manusia bukanlah ukuran kebenaran dalam agama.
Ukuran kebenaran adalah setiap ibadah yang disandarkan kepada perbuatan, perkataan dan hal-hal yang didiamkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa salam yang dilakukan oleh para shahabat beliau, selain itu maka harus ada dasarnya yang kuat.
Dan ibadah tersebut dilakukan dengan kesadaran diri yang penuh bukan hanya mengikuti orang lain yang beribadah tanpa mengetahui dasarnya, atau ibadah tersebut dilakukan bukan karena Allah ta'ala melainkan ada unsur riya, sum'ah dan ingin mendapatkan kehidupan duniawi saja.
Dalam berfikir seorang muslim mandiri tidak mengikatkan diri kepada pemikiran-pemikiaran yang didasarkan pada orang-orang kafir, orang-orang yang membenci Islam atau orang-orang orientalis, di mana mereka mempelajari Islam bukan untuk mencari kebenaran tapi hanya untuk mencari kelemahan Islam.
Pemikirannya didasarkan kepada pola-pola pikir Islami yang telah dimilikinya sejak ia berada di alam ruh, alam janin hingga ia sampai ke alam dunia ini. Semua itu tidak dicemari oleh berbagai pemikiran yang menyeleweng dari fitrah manusiawinya.
Kemandirian berfikirnya berpijak pada nash-nash yang kuat sebagai pedoman dalam memilih, ia timbang setiap pemikiran-pemikiran yang ada di dunia ini, sehingga dengan itu ia mampu memilah dan memilih mana pola pikir yang Islami dan mana pola pikir yang bertentangan dengannya.
Semua itu menjadikan seorang muslim mandiri berdiri kokoh di atas prinsip hidup, ia tidak akan goyah diguncang oleh berbagai prahara pemikiran dan subhat-subhat yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam. Dengan ini dia hanya mengharapkan keridhaanNya dan surga yang telah dijanjikanNya.